Kenali Fakta Penting Seputar Campak dan Manfaat Vaksinasi Dini

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:33:11 WIB
Kenali Fakta Penting Seputar Campak dan Manfaat Vaksinasi Dini

JAKARTA - Campak merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Morbillivirus. 

Penularannya sangat cepat melalui percikan ludah dan kontak langsung dengan penderita. Meski umum terjadi pada anak-anak, orang dewasa yang belum pernah terinfeksi juga berisiko tinggi.

Banyak anggapan keliru atau mitos tentang campak yang masih beredar di masyarakat. Mitos-mitos ini kadang membuat orang tua salah langkah dalam mencegah penyakit. Padahal, pencegahan efektif dapat dilakukan melalui vaksinasi dan kesadaran terhadap gejala.

Dokter spesialis penyakit menular, Leong Hoe Nam, menekankan pentingnya edukasi untuk membedakan fakta dan mitos. “Kesadaran masyarakat terhadap vaksinasi akan mengurangi risiko wabah yang tidak perlu,” ujarnya. Pesan ini menjadi penting di tengah tantangan kesehatan global yang terus berubah.

Mitos: Anak Harus Ditulari Campak Sejak Kecil

Beberapa orang percaya anak harus terkena campak agar membangun kekebalan alami. Akibatnya, ada orang tua yang sengaja memperbolehkan anak bermain dengan penderita campak. Tujuannya, menurut anggapan lama, agar kekebalan terbentuk sejak dini.

Padahal, kekebalan bisa dibentuk melalui vaksinasi MMR (measles, mumps, rubella). Vaksin ini aman dan efektif mencegah penyakit serius. Nam menambahkan, penolakan vaksinasi di beberapa negara maju meningkatkan kasus campak kembali.

“Sebagai dampaknya, kita kembali melihat peningkatan wabah campak, padahal sebelumnya orang mengira virus ini telah diberantas,” jelas Nam. Di negara maju, sebagian kasus masih dirawat di rumah sakit. Bahkan, ada yang mengalami komplikasi serius seperti infeksi otak atau kematian meski persentasenya kecil.

Mitos: Campak Hanya Terjadi pada Anak-Anak

Masih banyak orang percaya campak hanya menginfeksi anak-anak. Padahal, orang dewasa yang belum pernah terinfeksi juga bisa tertular. Nam menekankan bahwa penyakit ini cenderung lebih parah pada usia di atas 20 tahun.

Komplikasi bisa meliputi infeksi telinga, diare, pneumonia, hingga ensefalitis atau radang otak. Jika sebelumnya pernah terinfeksi, orang dewasa memiliki kekebalan alami. “Jika Anda belum diimunisasi dan berada di ruangan bersama penderita, 90 persen kemungkinan akan tertular,” saran Nam.

Konsultasi dengan dokter dianjurkan untuk menentukan status imunisasi. Orang dewasa yang belum divaksin harus segera mendapatkan setidaknya satu dosis MMR. Langkah ini memastikan perlindungan terhadap komplikasi yang lebih berat.

Mitos: Vaksinasi Campak Bersifat Opsional

Salah satu kesalahpahaman umum adalah vaksinasi campak tidak wajib. Padahal, vaksinasi tetap menjadi upaya utama pencegahan penyakit ini. Di banyak negara, termasuk yang berhasil menekan kasus campak, vaksinasi wajib bagi anak-anak.

Vaksin MMR diberikan dalam dua dosis untuk perlindungan maksimal. Suntikan pertama memiliki efektivitas 93 persen, sementara dosis kedua meningkat menjadi 97 persen. “Jika terkena campak setelah divaksinasi, penyakit biasanya ringan,” ungkap Nam.

Vaksinasi juga membantu mencegah penyebaran luas di masyarakat. Anak-anak dan orang dewasa yang divaksin tetap perlu menerapkan langkah pencegahan lain. Hal ini termasuk menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan penderita, dan memantau gejala.

Mitos: Sudah Terlambat untuk Imunisasi Dewasa

Anggapan bahwa orang dewasa sudah terlambat vaksinasi adalah salah. Nam menekankan siapa pun berusia 18 tahun ke atas atau lahir setelah 1956 harus mendapatkan minimal satu dosis MMR. Pengecualian hanya bagi yang bisa membuktikan pernah divaksin atau pernah terkena campak, gondok, dan rubella.

Vaksinasi dewasa penting untuk melindungi diri dari komplikasi serius. Terutama bagi mereka yang bekerja di tempat ramai atau berisiko tinggi tertular. “Vaksinasi dewasa bukan terlambat, tapi bagian dari pencegahan berkelanjutan,” jelas Nam.

Langkah ini juga membantu memutus rantai penularan di komunitas. Orang dewasa yang divaksinasi akan lebih terlindungi, bahkan jika terpapar virus. Dengan demikian, risiko wabah dan komplikasi bisa ditekan secara signifikan.

Mitos: Tidak Mungkin Tertular Jika Jaga Jarak dengan Pasien

Campak adalah penyakit sangat menular, sehingga menjaga jarak saja tidak cukup. Virus bisa menyebar melalui batuk, bersin, dan bahkan bertahan di udara hingga 2 jam. Orang tanpa kekebalan bisa tertular di tempat umum tanpa menyadarinya.

“Anda dapat tertular sebelum gejala muncul, biasanya 8—12 hari sebelum ruam terlihat,” jelas Nam. Gejala awal menyerupai flu, termasuk batuk, pilek, dan sakit kepala. Setelah itu, demam, ruam, mata merah, dan pembengkakan kelenjar getah bening dapat muncul.

Penderita tetap menularkan virus hingga empat hari setelah ruam hilang. Pencegahan efektif tetap melalui vaksinasi dan kesadaran terhadap gejala. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat melindungi diri dari risiko campak tanpa harus mengandalkan mitos atau informasi keliru.

Terkini