Baznas Tingkatkan Peran Santri dalam Menggerakkan Desa Saat Ramadhan

Jumat, 20 Februari 2026 | 13:44:05 WIB
Baznas Tingkatkan Peran Santri dalam Menggerakkan Desa Saat Ramadhan

JAKARTA - Badan Amil Zakat Nasional menghadirkan program inovatif selama Ramadhan 1447 H. 

Program bertajuk "Santri Memberdayakan Desa" memadukan penguatan spiritualitas dengan praktik agribisnis. Tujuannya memberikan pengalaman nyata bagi generasi muda sekaligus memperkuat ekonomi pedesaan.

Baznas menyiapkan 78 santri terpilih untuk diterjunkan di 26 titik di 8 provinsi. Provinsi tersebut mencakup Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Setiap lokasi dipilih untuk memberikan pengalaman belajar langsung tentang pertanian, peternakan, dan UMKM.

Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, menjelaskan program ini menguatkan spiritualitas sekaligus ketangguhan ekonomi warga.

“Kami ingin para petani dan peternak kita tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketangguhan iman yang amanah dan produktif,” ujarnya. Langkah ini diharapkan membentuk ekosistem ekonomi desa yang berlandaskan nilai religius.

Santri Sebagai Agen Perubahan Desa

Saidah menekankan peran santri sebagai penggerak perubahan di desa. Santri tingkat akhir atau alumni pesantren berusia 17–22 tahun dipilih karena potensi mereka sebagai mentor religi. Mereka akan memimpin pengajian, kultum subuh, dan literasi keagamaan untuk warga setempat.

Program ini menjadi laboratorium nyata bagi santri untuk belajar manajemen agribisnis langsung di lapangan. “Ini adalah laboratorium nyata bagi santri milenial untuk belajar langsung bagaimana mengelola usaha pertanian dan peternakan di lapangan,” jelas Saidah. Santri juga mendapatkan pengalaman praktis mengelola lumbung pangan dan peternakan.

Kehadiran santri di desa diharapkan menciptakan agen perubahan yang tangguh. Mereka bukan hanya cerdas secara agama, tetapi juga mahir mengelola usaha produktif. Hal ini menjembatani pendidikan keagamaan dengan pemberdayaan ekonomi.

Belajar Langsung di Pusat Studi Tiru

Lokasi program dipilih karena unit usaha pertanian dan peternakan di sana sudah berjalan stabil. Para santri akan belajar tata kelola agribisnis dan UMKM secara langsung. Hal ini memastikan pengetahuan yang mereka peroleh relevan dan dapat diterapkan di desa lain.

“Lokasi-lokasi ini dipilih secara khusus karena unit usaha pertanian, mikro, dan peternakannya sudah berjalan stabil, sehingga layak menjadi Pusat Studi Tiru bagi para santri,” kata Saidah. Metode pembelajaran ini memberi pengalaman praktis yang nyata dan mendalam. Santri dapat meniru praktik terbaik dan menerapkannya di lingkungan mereka sendiri.

Program ini memadukan teori dan praktik agar santri lebih siap menghadapi tantangan ekonomi desa. Mereka belajar strategi produksi, distribusi, dan pengelolaan modal. Dengan begitu, keterampilan mereka tidak hanya bersifat akademis tetapi juga aplikatif.

Metode Live In dan Pendampingan Intensif

Setiap kelompok santri terdiri dari tiga orang dan menjalani metode live in di desa binaan Baznas. Mereka tinggal bersama petani, pelaku UMKM, dan peternak selama dua pekan. Metode ini memungkinkan santri merasakan dinamika kehidupan desa secara langsung.

Pendampingan intensif dilakukan agar santri dapat memahami setiap aspek pengelolaan usaha. Mereka ikut terlibat dalam pengelolaan lumbung pangan dan Balai Ternak Baznas. Aktivitas ini menumbuhkan kedekatan antara santri dan warga, sehingga interaksi lebih humanis dan religius.

Live in juga membiasakan santri bekerja dalam tim dan menghadapi tantangan riil. Pengalaman ini melatih disiplin, kepemimpinan, dan kemampuan problem solving. Santri mendapat pembelajaran holistik yang menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan ekonomi.

Mencetak Generasi Santripreneur

Melalui program ini, Baznas berharap lahir generasi “santripreneur”. Santri diharapkan tidak hanya piawai membaca kitab, tetapi juga mampu mengelola lumbung pangan dan ternak secara profesional. Mereka menjadi teladan dalam menggabungkan iman dan keterampilan ekonomi.

Kehadiran santri di tengah masyarakat memperkaya pengalaman Ramadhan warga. Suasana ibadah menjadi lebih bermakna karena dikombinasikan dengan pembelajaran produktif. Program ini juga memastikan keberlanjutan ekonomi mustahik melalui pendampingan yang sistematis.

Selain itu, program membekali santri dengan kemampuan manajerial dan kewirausahaan. Mereka belajar cara mengembangkan usaha mikro, memasarkan produk, dan membangun jaringan komunitas. Hasilnya, desa menjadi lebih mandiri dan berdaya saing, sementara santri menjadi pemimpin ekonomi masa depan.

Baznas menegaskan bahwa “Santri Memberdayakan Desa” bukan sekadar program sementara. Ini adalah investasi jangka panjang bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas dan nilai keagamaan. Sinergi antara spiritualitas dan praktik usaha diyakini mampu mengubah wajah perekonomian desa.

Dengan pendekatan ini, Baznas membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi dan penguatan spiritual dapat berjalan beriringan. Santri dilatih menjadi agen perubahan yang kompeten, bertanggung jawab, dan beretika. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana Ramadhan dapat dimaknai melalui aksi sosial yang produktif.

Terkini