JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan di tengah dinamika pasokan dan ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar energi.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak menunjukkan variasi yang mencerminkan keseimbangan antara lonjakan stok dan risiko gangguan suplai. Situasi ini memperlihatkan bagaimana faktor fundamental dan sentimen global saling berinteraksi membentuk arah harga.
Harga minyak bervariasi pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta). Pergerakan harga minyak itu seiring peningkatan stok minyak mentah Amerika Serikat jauh lebih besar dari perkiraan mengimbangi ancaman terhadap pasokan minyak dari potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan data dan geopolitik secara bersamaan.
Mengutip CNBC, harga minyak kontrak berjangka Brent naik 8 sen menjadi USD 70,85 per barel. Sementara itu, harga minyak kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 21 sen menjadi USD 65,42. Variasi ini mencerminkan respons pasar terhadap data persediaan dan dinamika kawasan Timur Tengah.
Lonjakan Stok Tekan Sentimen Pasar
Energy Information Administration mengatakan persediaan minyak mentah AS naik 16 juta barel pada minggu lalu seiring pemanfaatan kilang menurun dan impor meningkat. Angka itu dibandingkan dengan harapan analis dalam jajak pendapat Reuters untuk kenaikan 1,5 juta barel. Kenaikan tajam tersebut sempat memberi tekanan terhadap ekspektasi harga.
Namun, angka penyesuaian EIA yang mencakup total perubahan stok minyak mentah yang tidak diperhitungkan mencapai rekor tertinggi minggu lalu sebesar 2,7 juta barel per hari.
“Laporan bearish (EIA) dengan peningkatan stok minyak mentah yang besar, tetapi dampaknya terhadap harga terbatas, karena pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Analis Komoditas UBS, Giovanni Staunovo. Pernyataan itu menegaskan bahwa sentimen global tetap dominan.
Harga Brent mencapai level tertinggi sejak 31 Juli pada Jumat, sementara WTI mencapai level tertinggi sejak 4 Agustus pada Senin.
Hal ini karena AS menempatkan pasukan militer di Timur Tengah untuk mencoba memaksa Iran bernegosiasi untuk mengakhiri program nuklir dan rudal balistiknya. Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan.
Ketegangan Geopolitik dan Diplomasi
Konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu pasokan dari Iran, produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC, dan negara-negara lain di kawasan penghasil minyak utama Timur Tengah. Risiko tersebut membuat harga tetap sensitif terhadap perkembangan politik. Investor pun terus memantau arah kebijakan yang ditempuh berbagai pihak.
Mendukung harga minyak, Presiden AS Donald Trump secara singkat menyampaikan argumennya tentang kemungkinan serangan terhadap Iran dalam pidato kenegaraannya.
Ia mengatakan bahwa tidak akan membiarkan negara yang ia gambarkan sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir. Pernyataan tersebut memperkuat ketegangan yang sudah ada.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan delegasi Iran untuk putaran ketiga pembicaraan pada Kamis di Jenewa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kalau kesepakatan dengan AS "dapat dicapai, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan". Harapan diplomasi ini menjadi faktor penyeimbang di tengah ancaman konflik.
Rencana Produksi OPEC+ dan Respons Kawasan
OPEC+ kemungkinan akan mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyaknya sebesar 137.000 barel per hari untuk April guna mengakhiri jeda tiga bulan dalam peningkatan produksi.
Langkah itu dipertimbangkan karena kelompok tersebut bersiap untuk puncak permintaan musim panas dan ketegangan antara AS dan anggota OPEC Iran meningkatkan harga. Delapan produsen OPEC+ yakni Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman akan bertemu pada 1 Maret.
Dalam perkembangan terpisah, produsen OPEC+ terbesar Arab Saudi telah mengaktifkan rencana untuk peningkatan produksi dan ekspor minyak jangka pendek jika serangan AS terhadap Iran mengganggu aliran minyak. Informasi ini muncul dari dua sumber yang mengetahui rencana Saudi. Kesiapan tersebut menunjukkan antisipasi terhadap kemungkinan gangguan suplai.
Langkah antisipatif ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar energi global. Pasar memandang fleksibilitas produksi sebagai bantalan jika terjadi gangguan besar. Dengan demikian, keseimbangan antara pasokan dan permintaan tetap menjadi perhatian utama.
Ketidakpastian Tarif dan Arah Harga
Ketidakpastian tarif juga semakin mengkhawatirkan investor. Tarif global sementara Trump sebesar 10% mulai berlaku pada hari Selasa setelah putusan Mahkamah Agung yang luas pekan lalu. Kebijakan tersebut menambah lapisan risiko baru bagi perdagangan internasional.
Ia kemudian mengatakan tarif akan menjadi 15%, tetapi tidak jelas kapan dan apakah itu akan berlaku. Tarif AS untuk beberapa negara akan naik menjadi 15% atau lebih tinggi dari 10% yang baru diberlakukan, kata Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer tanpa menyebutkan mitra dagang tertentu atau memberikan detail lebih lanjut. Pernyataan ini menambah ketidakpastian arah ekonomi global.
Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak mencerminkan kombinasi faktor fundamental dan geopolitik yang saling memengaruhi. Lonjakan stok memberikan tekanan, sementara risiko konflik dan kebijakan produksi memberi dukungan harga.
Dengan dinamika tersebut, pasar energi tetap berada dalam fase penyesuaian yang penuh kewaspadaan namun tetap optimistis terhadap stabilitas jangka panjang.