Harga Gabah Petani Bojonegoro Jatuh di Bawah HPP Saat Musim Panen

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:06:58 WIB
Harga Gabah Petani Bojonegoro Jatuh di Bawah HPP Saat Musim Panen

JAKARTA - Musim panen padi di sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama terkait harga gabah di tingkat petani. 

Dalam beberapa waktu terakhir, harga gabah kering panen dilaporkan berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi tersebut membuat sebagian petani harus menyesuaikan keputusan penjualan dengan situasi pasar yang ada.

Meskipun harga acuan pemerintah sudah ditetapkan, praktik di lapangan menunjukkan harga yang diterima petani masih bervariasi. Di beberapa wilayah, gabah petani hanya terjual pada kisaran Rp5.700 hingga Rp6.300 per kilogram. Perbedaan ini menimbulkan keluhan dari petani yang berharap harga jual dapat mengikuti ketentuan pemerintah.

Situasi tersebut menjadi gambaran dinamika perdagangan gabah di tingkat lokal. Harga yang terbentuk dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi panen, permintaan pasar, serta peran para pengepul. Meskipun demikian, sebagian petani tetap bersyukur karena hasil panen masih memberikan keuntungan.

Harga Gabah di Tingkat Petani

Penurunan harga gabah di tingkat petani menjadi perhatian utama selama musim panen berlangsung. Harga gabah kering panen yang berada di bawah HPP membuat sebagian petani merasa kurang mendapatkan nilai jual yang ideal. Namun kondisi pasar sering kali membuat petani tidak memiliki banyak pilihan.

Petani asal Kecamatan Sumberrejo, Munir mengaku tetap menjual gabah sesuai harga yang ditawarkan oleh tengkulak. Keputusan tersebut diambil karena gabah harus segera dijual setelah panen agar tidak mengalami penurunan kualitas. Meskipun harga berada di bawah acuan pemerintah, ia tetap bersyukur karena masih memperoleh keuntungan.

“Kita tahu harga gabah dari pemerintah infonya Rp6.500, tapi ya mau gimana lagi, lakunya segitu. Tapi alhamdulillah masih untung,” ujar Misbah.

Pernyataan tersebut mencerminkan kondisi nyata yang dihadapi banyak petani. Mereka sering kali harus menyesuaikan diri dengan harga pasar yang berlaku. Meski demikian, hasil panen tetap menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga petani.

Pengalaman Petani pada Musim Panen Tahun Ini

Keluhan serupa juga datang dari petani lain di wilayah Bojonegoro. Kaklim, petani dari Desa Gayam Kecamatan Gayam, menyampaikan bahwa harga gabah pada musim panen tahun ini berkisar antara Rp6.100 hingga Rp6.300 per kilogram. Harga tersebut masih berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah yang telah ditetapkan.

Meskipun begitu, menurut Kaklim kondisi tahun ini masih lebih baik dibandingkan musim panen sebelumnya. Pada tahun lalu harga gabah sempat turun hingga di bawah Rp6.000 per kilogram. Hal tersebut membuat sebagian petani menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga pendapatan.

“Alhamdulillah tahun ini harganya lumayan stabil. Dari panen sekitar dua ton padi, sebagian saya jual dan sebagian lagi saya simpan untuk kebutuhan makan keluarga,” kata Kaklim.

Sebagian petani memang memilih menyimpan sebagian hasil panen untuk kebutuhan rumah tangga. Cara tersebut menjadi strategi agar kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi. Sementara sisa hasil panen dijual untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Perbedaan Harga di Tingkat Pengepul

Menariknya, situasi berbeda justru terlihat di tingkat pengepul gabah. Beberapa pengepul mengaku dapat menjual gabah dengan harga yang lebih tinggi ketika disetorkan ke gudang Bulog. Hal ini menunjukkan adanya selisih harga antara tingkat petani dan tingkat distribusi berikutnya.

Prapto, salah satu tengkulak gabah di Bojonegoro, mengatakan bahwa harga jual gabah ke gudang Bulog saat ini berada di atas HPP. Gabah kering panen yang ia setor dapat diterima dengan harga sekitar Rp6.800 hingga Rp6.900 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga yang diterima petani.

“Gabah kering tahun ini saya setor ke gudang diterima dengan harga Rp6.800 sampai Rp6.900 per kg. Tahun lalu mentok di Rp6.500, bahkan kadang turun sampai Rp6.200,” ungkapnya.

Perbedaan harga tersebut mencerminkan rantai distribusi gabah dari petani hingga ke gudang penyimpanan. Setiap tahap distribusi memiliki biaya serta proses tersendiri. Hal ini sering kali memengaruhi harga jual di tingkat akhir.

Proses Pembelian Gabah dari Petani

Prapto menjelaskan bahwa ia membeli gabah dari berbagai desa di wilayah Bojonegoro. Beberapa desa yang menjadi sumber pasokan antara lain Malingmati, Turi, Kalisumber, hingga Gamongan. Dari desa-desa tersebut gabah dibeli langsung dari petani dengan harga yang telah disepakati.

Harga pembelian gabah dari petani biasanya berada pada kisaran Rp6.100 hingga Rp6.300 per kilogram. Harga tersebut menyesuaikan dengan kondisi gabah serta biaya yang harus dikeluarkan selama proses panen. Salah satu biaya yang diperhitungkan adalah penggunaan mesin panen atau kombi.

“Gabah kering tahun ini saya setor ke gudang diterima dengan harga Rp6.800 sampai Rp6.900 per kg. Tahun lalu mentok di Rp6.500, bahkan kadang turun sampai Rp6.200,” ungkapnya.

“Gabah kering tahun ini saya setor ke gudang diterima dengan harga Rp6.800 sampai Rp6.900 per kg. Tahun lalu mentok di Rp6.500, bahkan kadang turun sampai Rp6.200,” ungkapnya.

Menurut Prapto, harga yang diberikan kepada petani juga sudah termasuk potongan biaya panen menggunakan mesin. Penggunaan mesin panen memang menjadi pilihan banyak petani karena dapat mempercepat proses panen. Namun biaya tersebut biasanya langsung dipotong dari harga gabah yang dijual. “Harga itu sudah termasuk dipotong biaya kombi,” jelasnya.

Terkini