JAKARTA - Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) menekankan pentingnya jalur logistik khusus untuk mendukung implementasi kebijakan Zero ODOL.
Langkah ini ditujukan agar distribusi air minum dalam kemasan tetap lancar tanpa terganggu pembatasan berat kendaraan. Pendekatan terintegrasi diharapkan membantu industri menyesuaikan armada dan pola distribusi secara lebih efisien.
Masa Transisi Zero ODOL untuk Industri
Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo, menyatakan bahwa masa transisi Zero ODOL harus berjalan bertahap dan terukur.
“Masa transisi yang jelas akan memberi ruang bagi industri untuk menyesuaikan armada, pola distribusi, dan perencanaan biaya tanpa menimbulkan gangguan pasokan di masyarakat,” ujarnya. Hal ini penting agar sektor strategis seperti AMDK tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.
Industri perlu menyesuaikan kapasitas armada dan jadwal distribusi agar pasokan tidak terganggu. Dengan masa transisi yang terencana, risiko kekurangan barang di pasaran dapat diminimalkan. Pendekatan ini juga memberi waktu bagi perusahaan untuk melakukan perhitungan biaya dan perencanaan operasional yang matang.
Pengembangan Jalur Logistik Khusus
AMDATARA mendorong pemerintah membangun jalur logistik khusus di kawasan industri dan koridor distribusi antarkota.
“Keberadaan jalur logistik yang lebih terkelola akan mengurangi konflik dengan lalu lintas umum, meningkatkan ketepatan waktu distribusi, serta menurunkan risiko gangguan selama periode pembatasan lalu lintas tertentu,” kata Karyanto. Langkah ini dianggap krusial untuk menjamin distribusi AMDK tetap berjalan lancar.
Jalur logistik khusus juga memudahkan koordinasi pengiriman di wilayah padat dan industri besar. Dengan pengaturan jalur yang efisien, kendaraan angkutan dapat bergerak tanpa mengganggu lalu lintas umum. Hal ini secara langsung meningkatkan produktivitas dan keandalan distribusi komoditas penting.
Percepatan Penguatan Angkutan Intermoda
Selain jalur khusus, Amdatara menekankan pentingnya integrasi moda transportasi alternatif. Angkutan jalan, kereta api, dan moda laut harus terhubung secara efektif untuk distribusi jarak menengah dan jauh. Pendekatan intermoda ini dinilai mampu menekan biaya sekaligus mendukung keberhasilan Zero ODOL jangka panjang.
Peningkatan kapasitas moda transportasi alternatif juga mengurangi ketergantungan pada truk berat jalan raya. Integrasi ini memudahkan distribusi barang secara berkelanjutan dan aman. Kombinasi jalur khusus dan angkutan intermoda menjadikan logistik lebih efisien dan terkontrol.
Konsistensi Penegakan Hukum dan Digitalisasi
AMDATARA menekankan perlunya konsistensi penegakan hukum serta sinkronisasi kebijakan lintas sektor. “Selain itu, pengurangan pungutan di lapangan oleh oknum tertentu serta penyederhanaan regulasi juga penting untuk diperhatikan,” jelas Karyanto. Digitalisasi dan penguatan data logistik diperlukan agar kebijakan Zero ODOL berjalan akurat dan terintegrasi.
Penggunaan sistem digital mendukung pemantauan distribusi secara real-time. Dengan data yang valid, pemerintah dan industri dapat menyesuaikan strategi distribusi dengan cepat. Hal ini juga memperkuat transparansi dan efektivitas pelaksanaan kebijakan Zero ODOL di seluruh wilayah.
Peran AMDATARA dalam Dialog Pemerintah
AMDATARA menyatakan siap menjadi mitra dialog pemerintah dengan menyediakan masukan berbasis data lapangan. Pendekatan ini memastikan implementasi Zero ODOL tidak hanya efektif secara regulatif, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan sosial. Industri diharapkan tetap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan kelancaran distribusi.
Organisasi ini juga mendorong koordinasi aktif antara pemerintah dan pelaku usaha. Dialog dan kerja sama menjadi kunci suksesnya kebijakan Zero ODOL. Dengan strategi yang matang, masa depan distribusi AMDK dapat berjalan aman, efisien, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.