NasDem

Safari Ramadan NasDem Ditutup Doa Bersama di Pesantren

Safari Ramadan NasDem Ditutup Doa Bersama di  Pesantren
Safari Ramadan NasDem Ditutup Doa Bersama di Pesantren

JAKARTA - Malam Ramadan kerap menghadirkan jeda refleksi di tengah padatnya agenda politik. Di hari ketiga rangkaian Safari Ramadan, suasana sengaja diperlambat bukan dengan forum besar atau pidato panjang, melainkan dengan perjumpaan hening di lingkungan pesantren. 

Momentum ini menjadi ruang untuk menata niat, memperkuat silaturahmi, sekaligus memohon keberkahan agar ikhtiar yang dijalankan tetap berpijak pada nilai-nilai keikhlasan. Pilihan menutup agenda di pesantren memberi pesan bahwa kerja-kerja publik tak lepas dari dimensi spiritual yang menyertainya.

Rangkaian Safari Ramadan partai NasDem hari ketiga ditutup dengan suasana khidmat di Pondok Pesantren Daarussalaam, Sempon, Kadirejo, Pabelan, Kabupaten Semarang. Kunjungan ini dilakukan setelah agenda konsolidasi dan buka puasa bersama DPW Partai NasDem Jawa Tengah lalu dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah bersama para kyai dan santri. 

Tidak ada forum besar, tidak ada konsolidasi panjang. Malam itu diisi dengan kebersamaan sederhana: ibadah, silaturahmi, dan percakapan hangat bersama pengasuh pesantren.

Makna Silaturahmi di Lingkungan Pesantren

Kunjungan ke pesantren kerap dimaknai sebagai upaya merawat hubungan dengan basis-basis moral di tengah dinamika politik praktis. Dalam suasana Ramadan, pesantren menjadi ruang perjumpaan yang lebih intim, tempat nilai keteladanan dan kebersahajaan terasa nyata. 

Interaksi yang terbangun tidak dibalut seremoni, melainkan kehadiran yang membumi salat berjamaah, menyapa santri, serta berbincang singkat dengan para pengasuh.

Bagi rombongan Safari Ramadan, suasana semacam ini memberi jarak sejenak dari ritme kerja yang padat. Silaturahmi sederhana menghadirkan kesempatan untuk mendengar langsung nasihat para kyai, sekaligus menguatkan ikatan batin dengan komunitas pesantren. 

Kehadiran di Pondok Pesantren Daarussalaam juga menandai komitmen menjaga relasi dengan lingkungan pendidikan keagamaan yang selama ini menjadi rujukan moral di masyarakat.

Doa Sebagai Ikhtiar Spiritual

Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem sekaligus Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kerja politik dan ikhtiar spiritual. 

"Setiap langkah tentu membutuhkan doa. Karena itu kami datang untuk memohon doa dan barakah dari para kyai dan para santri," ujarnya.

 Pernyataan ini menegaskan bahwa kerja-kerja publik tidak berdiri sendiri, melainkan membutuhkan sandaran nilai dan doa dari lingkungan pesantren.

Ia menambahkan, dalam setiap perjalanan Safari Ramadan, pesantren menjadi ruang penting untuk kembali menata niat. Menurutnya, kerja-kerja publik yang dijalankan harus selalu disertai kesadaran bahwa pengabdian memerlukan ketulusan dan restu dari para ulama. 

Dalam konteks ini, doa bersama bukan sekadar penutup agenda, melainkan peneguhan arah dan etos pengabdian yang ingin dijaga sepanjang perjalanan politik.

Rangkaian Agenda Hari Ketiga Safari Ramadan

Sebelum tiba di pesantren, agenda hari ketiga diisi dengan konsolidasi serta buka puasa bersama DPW Partai NasDem Jawa Tengah. Setelah itu, rombongan melanjutkan kegiatan dengan salat tarawih berjamaah bersama para kyai dan santri. 

Alur kegiatan yang bertahap ini memperlihatkan upaya menyeimbangkan konsolidasi organisasi dengan penguatan dimensi spiritual. Tidak ada panggung besar, tidak ada orasi panjang yang diutamakan adalah kebersamaan dalam ibadah.

Diketahui, kunjungan ke Pesantren Daarussalaam menjadi pesantren kelima yang didatangi dalam rangkaian Safari Ramadan kali ini, sekaligus menutup seluruh agenda hari ketiga. 

Pilihan menutup agenda di pesantren memberi penanda simbolik: bahwa akhir dari serangkaian kegiatan politik hari itu diletakkan pada ruang yang menenangkan, penuh doa, dan sarat nilai kebajikan.

Penutup Khidmat dan Harapan Keberkahan

Lebih lanjut, suasana tarawih yang berlangsung sederhana namun khusyuk menjadi penanda akhir rangkaian kegiatan hari itu. Tanpa seremoni berlebihan, agenda ditutup dengan doa bersama, sebagai harapan agar seluruh ikhtiar yang dilakukan membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat. Keheningan doa menjadi ruang refleksi, sekaligus pengingat bahwa kerja-kerja publik membutuhkan fondasi batin yang kuat.

Momentum penutup ini menegaskan corak Safari Ramadan yang tidak semata berorientasi pada konsolidasi struktural, tetapi juga pada penguatan nilai spiritual. Dengan menempatkan doa bersama sebagai penutup, pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: setiap langkah pengabdian perlu disertai niat yang lurus, kerendahan hati, serta harapan agar ikhtiar membawa maslahat yang lebih luas.

Dalam suasana Ramadan, peneguhan nilai-nilai ini menjadi relevan, bukan hanya bagi para pelaku politik, tetapi juga bagi masyarakat yang berharap pada kerja-kerja publik yang berangkat dari ketulusan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index