Perminas Dan Danantara Garap Proyek Rare Earth Gabon

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:06:42 WIB
Perminas Dan Danantara Garap Proyek Rare Earth Gabon

JAKARTA - Di tengah meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk kendaraan listrik hingga industri pertahanan, Indonesia mengambil langkah agresif memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. 

Melalui sinergi lintas negara dan dukungan lembaga investasi nasional, proyek pengelolaan logam tanah jarang di Afrika kini resmi menjadi bagian dari agenda strategis nasional.

PT Perusahaan Mineral Nasional atau Perminas menjalin aliansi strategis dengan perusahaan asal Kanada, New Energy Metals Holdings Ltd untuk mengamankan pasokan niobium dan logam tanah jarang (rare earth). Kolaborasi ini menyasar pengelolaan sumber daya di Republik Gabon sekaligus mendorong pengembangan industri hilir di Indonesia.

Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada Selasa.

Fokus utama kerja sama mencakup integrasi hulu ke hilir, mulai dari eksplorasi sumber daya, pemrosesan, hingga manufaktur lanjutan untuk memperkuat rantai pasok global.

Kolaborasi Strategis Hulu Hingga Hilir

Kemitraan ini dirancang bukan sekadar untuk mengamankan bahan mentah, tetapi juga membangun fondasi industri berbasis nilai tambah. Kerangka kerja sama dalam MoU menetapkan evaluasi menyeluruh agar Indonesia dapat berperan sebagai pusat platform pemrosesan dan manufaktur terintegrasi.

CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian krusial dari agenda hilirisasi nasional. Menurutnya, penguatan akses terhadap mineral strategis menjadi kebutuhan mendesak dalam fase pertumbuhan industri berikutnya.

"Fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global," ujar Rosan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerja sama ini tidak hanya berorientasi pada pasokan, melainkan juga pada transformasi struktural industri manufaktur nasional.

Fokus Mineral Kritis Untuk Industri Masa Depan

Adapun mineral yang menjadi fokus utama meliputi niobium (Nb), neodymium (Nd), dan praseodymium (Pr). Ketiga unsur ini merupakan bahan baku penting dalam produksi magnet permanen berperforma tinggi.

Material-material kritis ini sangat vital bagi ekosistem kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, hingga industri kedirgantaraan dan pertahanan. Ketergantungan global terhadap pasokan rare earth yang terpusat di sejumlah negara membuat diversifikasi sumber menjadi agenda strategis banyak pemerintah.

Presiden Direktur Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menekankan bahwa kerja sama ini menciptakan jalur terstruktur untuk menghubungkan potensi hulu dengan penciptaan nilai tambah di dalam negeri sesuai prioritas nasional jangka panjang.

Dengan kata lain, Indonesia tidak ingin berhenti sebagai pembeli bahan mentah, melainkan menjadi pemain aktif dalam pengolahan dan manufaktur lanjutan. Integrasi tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing industri nasional sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi.

Langkah Lanjutan Dan Skema Investasi

Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan MoU, kedua belah pihak akan membentuk Joint Working Group. Tim ini bertugas menjalankan agenda teknis, termasuk uji tuntas dipercepat dan penilaian komersial terhadap proyek yang akan dikembangkan.

Kerja sama juga mencakup negosiasi jalur cepat untuk pendanaan dan investasi strategis. Skema ini membuka peluang kepemilikan saham oleh Perminas dan Danantara di tambang Maboumine yang berada di Gabon. 

Dengan keterlibatan langsung dalam kepemilikan aset, Indonesia berpotensi memperoleh akses yang lebih terjamin terhadap pasokan mineral kritis tersebut.

Langkah ini sekaligus memperluas portofolio investasi luar negeri Indonesia pada sektor sumber daya strategis. Pendekatan kemitraan internasional dipilih untuk memastikan transfer teknologi, akses pasar, serta kepastian pasokan jangka panjang.

Diversifikasi Rantai Pasok Global

President New Energy Metals Holdings Ltd, Abduljabbar Alsayegh, menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai kemitraan tersebut sebagai langkah penting dalam mendiversifikasi rantai pasok rare earth dunia yang saat ini menjadi perhatian global.

Isu keamanan pasokan mineral kritis memang semakin mengemuka dalam beberapa tahun terakhir, terutama seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik dan teknologi energi bersih. Negara-negara industri berlomba memastikan akses terhadap bahan baku strategis guna menjaga stabilitas produksi dan inovasi.

Bagi Indonesia, kolaborasi ini menjadi momentum memperkuat posisi dalam ekosistem global mineral strategis. Dengan menghubungkan potensi sumber daya luar negeri dan pengembangan industri hilir domestik, pemerintah berharap dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Secara keseluruhan, aliansi antara Perminas, Danantara, dan New Energy Metals Holdings Ltd mencerminkan arah kebijakan yang lebih proaktif dalam membangun ketahanan industri berbasis mineral kritis. 

Integrasi dari hulu hingga hilir menjadi kunci untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari rantai pasok global, tetapi juga memiliki peran sentral dalam pembentukan nilai tambah industri masa depan.

Terkini